Selasa, 17 Mei 2011

Sajak Suara

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
Dan bertanya dari lidah jiwaku
Suara suara itu tak bisa dipenjarakan
Disini bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu pemberontakan

Sesungguhnya suara itu bukan perampok
Yang ingin menjarah hartamu
Ia ingin bicara
Mengapa kau kokang senjata
Dan gemetar ketika suara suara itu menuntut keadilan

Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
Ialah yang mengajarkan bertanya
Engkau harus menjawab
Apabila engkau tetap bertahan
Aku akan memburumu seperti kutukan

(Wiji Thukul)

Bunga Dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kau harapkan tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adlh bunga yg tak kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adlh bunga yg dirontokan dibumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adlh tembok
Tapi ditubuh tembok itu tlh kami sebarkan biji-biji yg suatu saat nanti akn tumbuh bersama
Dengan kyakinan engkau harus hancur
Dalam keyakinan kami dimanapun tirani harus tumbang

(Wiji Thukul)

Tanpa Judul

Kuterima kabar dari kampung
Rumahku kalian geledah
Buku bukuku kalian jarah
Tapi aku ucapkan bnyk terima kasih karena kalian telah memperkenalkan sndri pada anak-anakku
Kalian telah mengajar anak-anakku membentuk makna penindasan sejak dini
Ini tak diajarkan disekolahan
Tapi rezim sekarang ini memperkenalkan pada kita semua tiap hari dimana-mana sambil nenteng nenteng senjata
Kekejaman kalian
Adalah bukti pelajaran yg tak pernah ditulis di indonesia.

(Wiji Thukul)

Minggu, 15 Mei 2011

Aku Tulis Pamplet Ini

Aku tulis pamplet ini
Karena lembaga pendapat umum
Ditutupi jaring laba-laba
Orang-orang bicara dalam kasak kusuk
Dan ungkapan diri ditekan menjadi pengiyaan

Apa yang terpegang hari ini
Bisa luput esok pagi
Ketidakpastian merajalela diluar kekuasaan
Kehidupan menjadi teka-teki,menjadi marabahaya,menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi
Maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
Karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku ingin merpati pos
Aku ingin memainkan bendera semaphore ditanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum indian
Aku tidak melihat alasan

Kenapa harus diam tertekan dan termangu
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar
Duduk berdebat
Menyatakan setuju atau tidak setuju

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka

Mentari menyinari air mata yang berderai menjadi api
Rembulan menjadi mimpi pada dendam
Gelombang angin menyingkirkan keluh kesah
Yang teronggok bagai sampah
Kegamangan
Kecurigaan
Ketakutan
Kelesuan

Aku tulis pamplet ini
Karena kawan dan lawan adalah saudara
Didalam alam masih ada cahaya
Matahari yang tenggelam diganti rembulan
Lalu besok pagi pasti terbit kembali
Dan didalam lumpur kehidupan
Aku melihat bagai terkaca
Ternyata kita toh manusia

WS RENDRA
pejambon-jakarta 27 April 1978

SURAT UNTUK OSAMA

Puisi 'Imajiner' Anis Matta tentang keagungan SYAIKH OSAMA BIN LADEN.


Osama..
Kamu tidak pernah bilang padaku
Kalau kamu mau meledakan WTC dan pentagon
Bush juga tidak pernah punya bukti sampai skarang
Jadi aku memilih percya pada cinta yang terpancar
Dibalik keteduhan matamu
Pada semangat pembelaan yang tersimpan
Dibalik lebat janggutmu

Osama..
Kamulah yang mengajar
Bangsa-bangsa yang bisu untuk bicara
Maka mereka berteriak

Kamulah yang menanam bibit keberanian
Diladang jiwa orang-orang penakut
Maka mereka melawan

Kamulah yang menebar nikmat kemerdekaan
Direnung kalbu orang-orang tertindas
Maka mereka berjuang

Kamulah yang menyebarkan harapan dilangit orang-orang terjaga
Maka mereka memberontak

Osama..
Kamulah yang mengunci mulut bangsa-bangsa adidaya
Supaya mereka terdiam
Maka mereka hanya bisa mengamuk

Kamulah yang meruntuhkan keangkuhan
Dari jidat bangsa-bangsa arogan
Maka mereka terbungkam

Kamulah yang merampas aman
Dari bangsa-bangsa tirani
Maka mereka tidak bisa tidur nyenyak

Kamulah yang merenggut selera hidup
Dari langit bangsa-bangsa makmur itu
Maka mereka tak lagi menikmati hidup

Osama oh osama..
Osama oh osama..
Mari kita menyanyikan lagu kemenangan
Bersama nurani anak-anak manusia
Yang telah menemukan kehidupan

Osama oh osama..
Osama oh osama..
Mari kita bersama senandungkan lagu keabadian
Bersama nurani anak-anak manusia
Yang merindukan taman sorga

"Jawaban Osama"

Saudaraku..
Surat ini sudah aku terima
Aku baik-baik saja disini
Aku masih minum teh dipagi hari
Dan menikmati sunset dipagi hari
Aku juga masih mengendalikan bisnis
Dan mengontrol jaringan Al-Qaidah
Dibalik goa-goa afganistan

Tenanglah saudaraku
Karena jadwal kematianku
Tidak ditulis dipentagon atau gedung putih

Saudaraku..
Aku menonton aksi-aksi kalian di TV Al-Jazirah
Aku senang kalian mulai berani berbicara
Aku senang kalian sudah bikin bush marah-marah
Aku gembira kalian bisa bilang tidak
Aku bahagia kalian mulai belajar jadi singa
Aku terharu kalian miskin-miskin tapi mau nyumbang
Aku terheran-heran kalian kecil-kecil
Tapi mau jihad ke afganistan
Aku pikir kalian anak-anak ajaib

Saudaraku..
Aku mau buka rahasia sama kalian
Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa
Kamu tau nggak?
Kenapa orang-orang taliban suka padaku
Kata mereka karena aku lucu
Bocah-bocah afganistan juga senang padaku
Kata mereka karena aku bawa mainan
Pesawat-pesawat amerika untuk mereka
Para pemulung afganistan juga suka padaku
Kata mereka karena roda-roda lama mereka itu
Bisa jadi besi tua yang laris

Orang-orang amerika itu terlalu serius
Padahal kita cuma sedang bermain dihalaman sorga

Saudaraku..
Kalau nanti ALLAH memilihku jadi syahid
Utusanku akan datang menemuimu
Membawa sbuah pundi kecil itulah darahku
Siramlah taman jihad di ambon,diternate dan poso
Tapi kalau aku bisa mengubur keangkuhan amerika disini
Aku akan datang ke indonesia
Kamu tahu apa yang akan aku lakukan?
Aku hanya mau investasi dinegerimu.

(ANIS MATTA)